TAMBAK BERAS — Suasana khidmat dan tertib menyelimuti jalannya sidang pleno Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di lokasi sidang pleno Muktamar Tambak Beras pada Sabtu (29/8/2026). Di tengah tensi persidangan yang mulai menghangat, salah satu tokoh utama NU, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, memberikan keterangan pers yang komprehensif mengenai jalannya dinamika pemilihan serta penerapan teknologi mutakhir dalam perhelatan akbar ini. Gus Ipul mengapresiasi kerja keras panitia yang berhasil menciptakan iklim persidangan yang kondusif, aman, sekaligus akomodatif terhadap seluruh aspirasi muktamirin.
Salah satu sorotan utama dalam Muktamar kali ini adalah digitalisasi sistem registrasi dan keamanan peserta guna mencegah adanya penyusup. Gus Ipul secara khusus memuji inovasi teknologi berbasis cip dan kecerdasan buatan (AI) yang dirancang oleh Gus Robin bersama timnya. Menurut beliau, teknologi ini tidak hanya memudahkan koordinasi konsumsi dan akomodasi, tetapi juga meminimalisasi potensi adanya peserta ilegal di dalam ruang sidang. "Alhamdulillah, berkat bantuan teknologi yang dirancang oleh Gus Robin dan tim, memudahkan kita semua untuk melakukan proses-proses persidangan secara tertib. Sekarang ini, kalau tidak punya kartu ya tidak bisa masuk, dan kartunya juga sudah ada sistem yang menyeleksi," ujar Gus Ipul. Seluruh aktivitas di dalam dan luar ruangan juga dipantau ketat melalui CCTV, sehingga memastikan jalannya sidang pleno berlangsung tanpa kegaduhan.
Perdebatan Mekanisme Voting: Terbuka, Tertutup, atau Reformasi Sistem?
Memasuki agenda krusial mengenai tata tertib dan mekanisme pemilihan, Gus Ipul menjelaskan bahwa forum saat ini tengah melakukan seleksi ketat untuk memisahkan peserta peninjau dengan peserta yang memiliki hak suara sah. Terkait dengan sistem voting pemilihan ketua umum, keputusan mengenai opsi voting terbuka atau tertutup masih menunggu kesepakatan bersama para peserta sidang. Namun, ia mengisyaratkan adanya peluang perubahan sistem pemilihan yang signifikan. Jika sebelumnya muktamar identik dengan sistem one man one vote, kini muncul usulan di mana satu wilayah atau cabang pemilih suara dapat merekomendasikan beberapa nama kandidat sekaligus untuk mengurangi polarisasi dukungan.

Proyeksi Jadwal dan Munculnya Kandidat Potensial
Ketika ditanya mengenai peta pencalonan, Gus Ipul menegaskan bahwa NU tidak pernah kekurangan kader potensial untuk memimpin organisasi sosial-keagamaan terbesar di Indonesia ini ke depan. Mengenai estimasi waktu penetapan pemimpin baru, ia memproyeksikan bahwa pemilihan Ketua Umum kemungkinan besar baru akan digelar pada hari Minggu (30/8/2026). Proses hari Sabtu ini akan difokuskan terlebih dahulu pada penyelesaian mekanisme tata tertib, dilanjutkan dengan tabulasi dan pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Setelah sembilan anggota AHWA terpilih bersidang dan menetapkan Rais Aam, barulah proses suksesi pemilihan Ketua Umum PBNU dapat dimulai secara resmi.
Mendorong Persatuan Melalui Musyawarah Mufakat
Menanggapi pernyataan Kiai Zulfa mengenai adanya kesepakatan dari lima bakal calon Ketua Umum untuk menempuh jalur musyawarah mufakat via AHWA, Gus Ipul menyambut hangat sinyal positif tersebut. Ia menilai bahwa kesepakatan ini mencerminkan kedewasaan berorganisasi dan memperkuat persatuan di antara para kader terbaik NU. Gus Ipul secara pribadi menyatakan sepakat dengan adanya perubahan sistem pemilihan yang dapat mereduksi tensi persaingan ketat di tingkat akar rumput. "Kalau para calon ketua umum bisa bersepakat mencari jalan terbaik, itu tentu melegakan kita semua agar tidak bersaing habis-habisan. Kita ingin bersama-sama meneruskan perjuangan para muasis, kita tidak bisa sendiri-sendiri lagi," pungkas Gus Ipul menutup wawancara.