Mundusewu | NUBareng.com - Sebuah potret toleransi beragama yang sangat luar biasa dan menyentuh hati kembali tercipta di tengah masyarakat Indonesia. Pada hari Sabtu, 12 September 2026 kemarin, rombongan jamaah Muslimat NU Ranting Mundusewu secara resmi diberangkatkan untuk melaksanakan kegiatan ziarah ke makam para wali (ziyaroh wali) yang tersebar di wilayah Troloyo (Mojokerto), Lamongan, hingga Tuban. Menariknya, pelepasan keberangkatan rombongan ibu-ibu Muslimat NU ini dipimpin langsung oleh Kepala Desa Mundusewu, Bapak anisah. Sosok pemimpin desa yang dikenal sangat dekat dengan warganya tersebut merupakan seorang pemeluk agama Nasrani (Kristen). Kehadiran beliau dalam melepas keberangkatan ini tidak hanya menjadi simbol dukungan administratif semata, melainkan wujud nyata dari kebersamaan dan kerukunan umat beragama yang kokoh di tingkat akar rumput desa setempat.

Tidak berhenti pada seremonial pemberangkatan saja, keunikan dan kehangatan toleransi dalam perjalanan religi ini berlanjut jauh lebih dalam. Bapak anisah bersama sang istri, Ibu Lurah yang juga beragama Nasrani, memutuskan untuk ikut serta mendampingi (nderekaken) rombongan Muslimat NU sepanjang perjalanan ziarah tersebut. Keputusan kepala desa beserta istri untuk mendampingi warganya yang berbeda keyakinan dalam melaksanakan ziarah Auliya sontak menuai rasa haru dan simpati mendalam dari seluruh peserta ziarah. Selama perjalanan menyusuri rute Troloyo, Lamongan, hingga pesisir Tuban, kebersamaan yang terjalin antara pemimpin desa non-muslim dan warganya yang muslim tampak begitu cair, tanpa ada sekat pembatas teologis yang menghalangi jalinan silaturahmi kemanusiaan.
Momen paling mengharukan dan mengundang decak kagum terjadi ketika rombongan tiba di setiap destinasi makam para wali yang dikunjungi. Di tengah-tengah kekhusyukan jamaah Muslimat NU melantunkan tahlil, yasin, dan doa-doa keselamatan, Bapak anisah beserta Ibu Lurah turut bersimpuh di tengah-tengah jamaah tepat di depan maqam para wali di seluruh lokasi ziarah. Dengan penuh rasa hormat dan khidmat, pasangan suami istri pemeluk agama Nasrani ini ikut beribadah dan berdoa bersama sesuai dengan keyakinan mereka, menyelaraskan energi spiritual demi keselamatan dan kemakmuran warga Desa Mundusewu. Pemandangan langka ini menjadi bukti konkret bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi seseorang untuk saling menghormati ritual ibadah sesama manusia, sekaligus memperlihatkan nilai luhur Pancasila yang hidup subur di sanubari masyarakat desa.
Kegiatan ziarah wali yang dilaksanakan oleh Muslimat NU Ranting Mundusewu ini pada akhirnya bukan sekadar perjalanan spiritual biasa untuk mencari keberkahan para kekasih Allah. Lebih dari itu, perjalanan ini telah bertransformasi menjadi sebuah monumen sejarah perdamaian dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia yang sangat menginspirasi. Sikap rendah hati dan toleransi tinggi yang ditunjukkan oleh Bapak anisah beserta istri diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah-daerah lain di tanah air tentang bagaimana merawat keberagaman. Ketika seorang pemimpin Nasrani dapat berdiri tegak mendampingi dan ikut mendoakan warganya yang muslim di depan makam para wali, maka sekat-sekat perbedaan pun runtuh, menyisakan persaudaraan kemanusiaan yang abadi di bawah naungan Bhinneka Tunggal Ika.